• Posted by : Masykur Juli 27, 2014


    بسم الله الرحمن الرحيم 
    Seiring dengan majunya suatu zaman, kita sebagai umat islam harus senantiasa up to date. Baik dalam bidang agama, maupun dalam bidang umum. Hal in dikarenakan untuk tatap menjaga islam agar tidak menjadi agama yanag kolot atau bahkan –naudzubillah- agama yang tertindas oleh zaman. Namun, penyeleksian terhadap suatu ahl yang barus haruslah sesuatu yang baik. Tidak harus yang lebih baik sepert maqola-paribahasa- yang sering kita dengar –المحافظة على القديم الصاليح والجالب على الجديد الا صلاح “meanjaga atas suatu perkara dahulu yang baik. Dan mengambil suatu perkara baru yang lebih baik” -. Akan tetapi ada kalanya lebih baik seperti berikut المحافظة على القديم الا صلاح والجالب على الجديد الصاليح , keblikan dari yang pertama. Pastinya, saya mengutarakan demikian ada sebabnya. Kenapa?, dikarenakan sesuatu hal yang lama, terkadang adakalanya kurang efesien dengan zaman sekarang atau bahkan dengan zaman yang akan dating. Misalnya, masalah dakwah. Kita flashback sejenak. Pada zaman dahulu, seseorang jika ingin berdakwah atau ditugaskan untuk berdakwah mereka harus langsung pergi ke lokasi yang ingin dijadikan tempat dakwah. Dengan demikian, konsekuensi yang diterima ialah waktu dan tenaga kita akan hanya terkuras dalam perjalanan. Sedangakan sesaat kita sudah sampai pada lokasi yang telah kita tentukan, ternyata sudah terjamah dahulu oleh mereka yang terlebih dahulu dating lebih cepat. Mereka yang telah menggunakan fasilitas-fasilitas modern. Bahkan dalam waktu satu detik saja, yang mereka sampaikan –berupa fitnah-fitnah yang bertujuan untuk membenci serta memusuhi islam- sudah berada ditangan. Kawan, taukah siapa mereka itu? Mereka ialah para kaum orientalis dan misionaris, musuh-musuh islam. Lantas, apa ingin agama tercinta kita ini tertinggal dengan cara-cara yang dilakukan oleh mereka? –yakni, dengan fasilitas canggih internet seperti media-media social, bloging, media cetak, atau melalui media televisi-. Maka dari itulah, maqola yang kedua lebih baik.
                    Mengenai, masalah yang saya sebutkan –dakwah didunia nyata-, bukan berarti kita harus benar-benar meninggalkannya. Hal ini, dikarenakan untuk mempermudah dan mempercepat seorang penduduk untuk mendapatkan jawaban mengenai problematika yang diahadipnya. Dan juga, untuk tetap menjaga keutuhan akan ajaran keislaman yang telah kita doktrinkan. Namun demikian, penggabungan anatar keduanya itu lebih efektif, efesien dan lebih maksimal. Tetapi dalam melakukan dakwah, atau mengirim seorang pendai haruslah seseorang yang benar-benar mapan dalam segi mental dan kepribadian adan juga seseorang yang benar-benar mapan dalam segi metode sekaligus beserta materinya. Yang dimana ke empat-empatnya itu kebanyakan tak ada pada seorang pendai. Dimana ke empat ajaran cara berdakawah itu sudah dicontohkan oleh Allah kepada kita, melalui rasulnya. Dengan demikian wajar, jika ada penDai yang bertindak tak logis. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini.  –menipu, menginjak dan yang lainnya-.
                    Mari kita tengok awal mula sejarah nabi kita. Saat pertama kali diberikan wahyu pertama. Yang dibwakan oleh malaikat jibril. Beliau merasa ketakutan dan belum siap untuk menerimanya. Hal ini dikerenakan mental kepribadian nabi belum terbangunkan. –terbukti dengan wahyu yang kedua, dimana beliau berselimut demgam rasa ketakutan- Begitu juga dengan penDai, apabila mentalnya tidak ditempa secara baik dan matang. Hasilnya nihil. Lantas, bagaimana kita menempa mental pendai secara aik dan matang? Dalm wahyu kedua yang diterima oelh rasululoh merupakan jawabannya. Coba kita telisik lebih dalam makna yak tersirat pada wahyu tersebut –surah al-Muddatsir ayat 1-7- beliau (rusululloh) di ingtakn oelh Allah mengenai akan kepribadan yang apik nan elok, didalam ayat tersebut jika saat kita telah menelaah dalam-dalam, kita akan mendapatkan poin-poinnya sebagai berikut:

    Pertama, ayat kesatu sampai dengan ayat kedua (1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan!). dalam ayat tersebut sebenarnya tersimpan mana dan hikmah yang dapat kita ambil. Dimana ayat terseut mengajarkan hikmah kepada kita untuk menjadi pribadi yang semangat. Seorang pribadi yang tak kenal lelah ataupun letih dalm artian ayat tersebut mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang optimis. akan tetapi sifat optimism yang tinggi haruslah disertai dengan tawakkal. Kenapa harus dengan tawakkal? Tentu saja hal ini dikarenan jikalau seseorang yang terlalu optimimis akan berdampak pada kesombongan. Padahal sombong itu berhak disandang oleh Allah SWT. Hal ini senada dengan ayat berikutnya. -3. dan Tuhanmu agungkanlah!-

    Kedua, mulai dari ayat ke empat sampai dengan ayat yang ke 6. (4. dan pakaianmu bersihkanlah,5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.) secara global mana yang dinginkan oleh ayatayat tersebut ialah ikhlas. Ikhlas itu bermacam-macam, bukan hanya ikhlas seperti yang biasa kita lakukan. Dalam ayat tersebut, disebutkan 3 macam keikhlasan;

    Pertama, dan yang paling penting ialah bagaimana kita bias mengikhlaskan pakaian hati kita –yakn nafsu- dari hiasan dunia. Yakni zuhud. Dengan demikian semua tindakan yang dilakukan oleh si pendai bukan bertujuan mencari duni akan tapi semata wayang lillhi ta’ala. –diambil dari ayat ke empat-

     kedua, ayat kelima juga mengjarkan arti keikhlasan yang tak kalah penting. Yakni, berikhlas dalam meniggalkan perbuatan yang keji. Perbuatan yang dapat mendatangkan murka dari allah..

    Ketiga, ikhlas yang diajarkan kepada kita ialah ikhlas untuk menerima apa yang akan kita dapatkan. Baik itu rizeki atau ikhlas akan musibah yang kita terima.

                    Mengenai keikhlasan hal ini juga dicontohkan oleh walisongo. Mereka mensyiarkan islam murni karena hanya mengharap ridhanya Allah. Hal ini dapat kita buktikan sebagai berikut

    1. Dibuku manapun dan sejrawan siapapun tak pernah mencatakan bahwa mereka berdakwah untuk mengais keuntungan duniawi.
    2. Kekalnya –jawa:langgeng- amal perbuatan mereka.walaupun mereka telah wafat akan tetapi amaliyah yang dicontohkannya masih ada hingga kini. Misalnya pertunjukan wayang-wayang –yang didalamnya telah dimasuki unsure islami-. Apa hubungannya dengan ikhlas? Cukup simple saja, kita cermati saja orang-orang serta kejadian-kejadiannya yang berada disekitar kita. Anggap saja orang member, jelaslah berbeda, antara pemberian orang yang ikhlas dan yang tidak. Terbukti pemberian yang ikhlas kita tetap menjaga pemberiannya. Bukankah demikian? Selain itu ada juga maqola seperti demikianدوامالعمل  علامة الاخلاص “tanda-tanda orang itu berbuat ikhlas, itu kekalnya amal yang diperbuat”

    Ketiga kepribadian yang diajarkan Allah kepada nabi Muhammad SAW. Yang harus kita contoh ialah pribadi yang sabar. –lihat ayat yang ketujuh-. Disana kata “sabar”  menggunakan kalimat fiil amar. Yang menunjukkan arti lit tikror –berulan-ulang-. Dengan demikian, pendai juga haruslah menjadi pribadi yang sabar disetiap waktu dan kondisi.

                    Allah tidak hanya membentuk pribadi seorang mubalighin –sinonim pendai- sebatas itu. Setelah surah al-Muddthir ayat ke 1-7 yang membentuk karakter yang demikian tak henti-hentinya pribadi seorang mubalighinnya –yakni rasul- di didik dan terus di didik.yaitu dengan menurunkan ayat-ayat pendidik yang lainnya, diantarnya surah al-Muzammil ayat 1- 5. Dimana secara universalnya, mubalighin haruslah mantap dan mapan dalam segi keimanannya juga. Memang salam ayat tersebut sama sekali tak ada kata “iman” tapi, setelah mentelaah, baru bisa diperoleh ma’nanya. Dan dibalik sholat itulah ma’na kontekstual yang dapat terima. Taukah anda apa itu? Itu adalah  Iman. yang merupakan hasil sari pati sholat. Memangnya seberapa perlukah seorang mubalghin menjadi pribadi yang beriaman? Sangat perlu, karena seorang yang mempunyai iman yang mapan dia akan senantiasa amar ma’ruf nahi munkar. Dan dalam bertindak pun dia aka selalu berhati-hati, apakah ini melanggar syariat atau tidak? Hal ini juga disebabkan dia merupaan seorang teladan. Dimana seorang teladan itu menjadi contoh dan penutan masyarakat. Bagaimana mungkin masyaraktnya baik, sedangkan yang dijadikan contoh saja tidak baik. Pribadi yang mapan imannya pentingkan?

                     Kemudian, dalam surah asy-Syu’arah ayat 214-216 (214. dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, 215. dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. 216. jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan) keseluruhan ayat-ayat tersebut mengjarkan kepribadian seperti berikut;

    Ayat 214: mengajarkan kepada mubalighin menjadi pribadi yang tak tergesa-gesa dalam bertindak dan berkata. Dan juga tida menjadi seorang yang belbihan –jawa: muluk-muluk-

    Ayat 215: walaupun kita nantinya mejadi seseorang mubalighin. Bukan berarti kita dapat bertindak sesuka hati. Malahan kita harus menjadi seorang yang rendah hati dan menghormati –andap asor:jawa-

    Ayat 216: ayat ini sebenarnya mengjarkan kepada kita untuk menjadi pribadi pemaaf. Walaupun secara tekstualnya tidak ada. Namun dapat kita ambil dari intisari yang dimaksudkan ayat tersebut.

                    Sungguh kejadian-kejadian tak terduga yang timbul dari seorang mubalighin –sperti yang terjadi pada tahun-tahun ini. Yaitu contoh-contoh yang telah saya singgung di awal- itu disebabkan karena kurangnya memantpakan pribadinya. Maka dengan demikian, sepatutnya mereka tak hanya sekedar pandai dalam hal menyampaian materi saja. Tetapi harus adanya keseimbangan antara ke empat komponen tersebut –mental, pribadi, metode dan materi-. Dengan maksud, mubalghin bukan hanya merupakan seorang yang beri-IQ, tapi juga ber-EQ.

                    Kita jangan lupa dengan wahyu pertama yang juga dapat kita ambil hikmahnya. Untuk dijadikan suatu pertimbangan untuk berdakwah. Yakni membaca. Dalam membaca macamnya ada 2 –yang ada kaitannya dengan berdakwah-:

    Pertama, membaca lingkungan –sosiolog serta geolognya- tujuan utamanya ialah untuk mengetahui bagaimna kondisi lapangan yang akan dijadikan berdai. Apakah cocok dengan metari yang akan dibawakannya? Dengan demikian, kita akan tahu bagaimana cara metode yang kita samapaikan kepada masayaratakat tersebut. Tidak hanya terpaku pada pada lingkungan saja, tetapi faktor psikolog masyarakat juga mampu mempengaruhi meode dakwah yang digunakan. Dan ini juga yang menjadi macam kedua pada surah tersebut. Membca lingkungan dan psikolog, keduanya ini harus dikombinasikan. Sehingga materi yang akan kta sampaikan kepada masyatakat yang berada ditempat dapat dicerna dan diterima. Ini disebabkan karena cara dan isi yang disampaikan memang dibutuhkan dan menarik serta tak bertentangan dengan mereka.

                    Sedangkan, cara berdakwa sendiri, sebenarnya Allah juga telah mengajarakannya kepada mubaliigh. Surah an-Nahl ayat 125 -serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.- merupakan ajaran tersebut. Yang dimaksudkan ialah berupa materi yang harus dibwakan ialah berupa hikmah yang mempunyai pengertian secara umum yang berarti  perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Sedngkan secara intens, hikmah disni ialah bagaimana caranya kita menyampaikan materi tersebut dengan tutur kata yang lembut, lugas, sopan serta beradab. Selain dari pada itu, ayat tersebut mengandung ajaran yang lainnya. Yakni, mengjarkan kepada mubalighin tentang menyikapi segala tindakan yang dilakukan masyarakat kepadanya dengan hati yang jernih dan kepala yang dingin. Seperti: saat kita disakiti, sepatutunya tak langsung membalasnya. Melainkan sebaliknya. Menyikapinya dengan kepala dingin. Menanyakan terlebih dahulu kepada mereka  apa yang membuatnya menolak kedatangan kita. Setelahnya kita carikan solusinya. Sehingga orang-orang yang menghalang-halangi sekaligus yang membenci hatinya akan luluh akan ajaran islam dan dapat diterimanya. Insya allah.

                    Sedangkan materi, tergantung pada hasil observasi pada kondisi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Contohnya sudah banyak, kita lihat saja sejarah walisongo. Bagaimana mereka menyebarkan islam dengan cara-cara yang unik dan kreatif. Ada ang menggunakan gamelan (bonang), kalimosodo, yang digunakan sebagai pengganti tiket menonton pertunjukkan wayang. Sehingga dengan cara-cara yang demikian, dapat menarik simpatisan orang-orang non islam ataupun oranng  islam sendiri.

                     Keseluruhan artikel yang saya tulis ini secara ringkas dapat diringkas sebagai gambar berikut:


    0 komentar

  • Copyright © 2014 - Resodakwah - All Right Reserved

    Resolusi Dakwah Powered by Blogger - redesigned by Masy Mas