• Ulasan dakwah walisongo

    Dakwah Paling Sukses pada Era Wali Songo


    Perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari dakwah yang dilakukan oleh wali songo yang sukses mengislamkan nusantara dengan cara-cara damai melalui akulturasi kebudayaan. Sampai sekarang, strategi dakwah ini digunakan oleh Nahdlatul Ulama dengan penghargaan terhadap tradisi lokal. Sebenarnya, bagaimana dakwah yang dilakukan oleh walisongo dan bagaimana dinamika yang mereka alami, berikut ini wawancara NU Online dengan Agus Sunyoto, pengarang buku 'Atlas Walisongo' dan 'Suluk Malang Sungsang Syeikh Siti Jenar' seusai diskusi kebudayaan di NU Online pertengahan Mei 2007 lalu.

    Sejauh ini, kalangan nahdliyyin selalu menyebut wali songo telah sukses dalam upaya penyebaran Islam di Indonesia, bagaimana sih trategi dakwah yang dijalankan oleh wali songo?
    Strategi dakwah dan Islamisasi memang paling berhasil pada era itu, yaitu terjadi imigrasi besar-besaran terjadi dari negeri Campa. Kita tahu beberapa tokoh dari sana diantaranya adalah Sunan Ampel dan Sunan Bonang, Sunan Drajat dan seterusnya, dan pengaruhnya sangat besar dalam kultur keislaman di Indonesia. Saya lihat keberhasilan itu karena salah satunya merebut pesantren-pesantren Syiwa Budha yang dinamakan Dukuh. Di dalam pedukuhan itu sudah ada ajaran syiwa budha yang sebetulnya mirip dengan Islam misalnya orang siswa di pedukuhan yang dinamakan wiku atau calon wiku itu dilarang makan babi, dilarang minum minuman keras, dilarang makan barang subhat hasil dari membungakan uang riba dan seterusnya, dilarang judi, mencuri, persis syariat Islam. Kemudian ini diambil alih, dijadikan lembaga pendidikan yang dinamakan pesantren. Karena itu, santri kan berasal dari bahasa Sansekerta dari kata-kata sastri, yaitu orang yang mempelajari sastra, sastra ini kitab suci, jadi santri adalah orang yang mempelajari kitab suci. Untuk membedakan dengan Hindu, dibuat nama lain yang bukan sastri tapi santri. Mereka juga mempelajari kitab suci. Ini yang membedakan dengan padepokan Hindu atau asrama-asrama.
    Selain itu, secara mayoritas di Jawa waktu itu, karena walisongo di Jawa, mainstream agama yang dianut oleh masyarakat adalah kepercayaan Kapitayan, ini pra Hindu sebenarnya, kalau Hindu kan diikuti oleh kalangan elit istana saja. Kebanyakan masyarakat masih model kapitayan. Dari situlah Islam masuk melalui Kapitayan, masyarakat bawah. Jadi Misalnya, untuk mengambil tempat ibadahnya orang kapitayan, Islam membangun tempat ibadah yang sama dengan orang kapitayan. Kalau orang kapitayan membangun tempat ibadah yang namanya sanggar, orang Islam membangun tempat yang namanya langgar. Kemudian, ibadah menyembah tuhan tidak digunakan dengan istilah sholat, tetapi orang-orang kapitayan diambil sembahyang, menyembah Sang Yang. Kemudian untuk ibadah tidak makan-makan atau tidak minum dalam sehari, tidak disebut shoum, ini kan bahasa Arab, yang digunakan orang-orang kapitayan yang sudah umum saja, yaitu upawasa jadi puasa. Semua mengambil alih itu.
    Terus cerita-cerita tentang kehidupan di akhirat yang baik, tidak usaha ngomong tentang jannatul firdaus, yang sudah digunakan orang saja, surga, surgaloka, kalau kita bicara penderitaan di akhirat, kita bicara local saja, narul jahannam, tidak ngerti orang, pakai saja yang sudah dikenal orang-orang nerakaloka. Disitu mulai terjadi proses pengambilalihan. Semua institusi-institusi diambil.

    Ini termasuk tahlil yang merupakan bagian dari lokalisasi ajaran Islam?
    Sebetulnya kalau tahlil bukan. Ini kan usaha dari ulama-ulama, dari Syeikh Siti Jenar yang menemukan satu hadist ketika Nabi Adam akan dicipta, dunia ini dihuni bangsa jin. Ketika Nabi Adam akan diturunkan ke dunia, semua bangsa jin diusir dari dunia mereka menuju laut dan pulau-pulau, itu ada hadistnya. Nah karena itu, ulama-ulama masa itu, termasuk yang mempelopori Syeikh Siti Jenar, memberikan amaliah-amaliah kepada para pengikutnya untuk membaca amalan-amalan yang menolak pengaruh jahat. Ini kan ada dasarnya di hadist-hadist. Inilah yang akhirnya menjadi tahlil itu. Sebetulnya dari itu, awalnya menolak pengaruh jahat jin. Tetapi kita tidak tahu kapan proses itu terjadi, tahu-tahu ini jadi kirim doa untuk orang mati. Ada proses yang terjadi di situ.
    Kalau kenduri, ini kan tradisinya orang Syiah untuk mengirim doa kepada leluhur, ini kan dari bahasa Persia. Nah memang orang-orang dari Campa yang datang ke Indonesia itu mazhabnya Syiah. Karena itu sama antara orang Campa dengan Indonesia, kalau mati diperingati 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari. Islam Campa yang terpengaruh Syiah, kalau mati orang ditalkin, itu syiah, orang Sunni tidak ada. Kalau sholat taraweh 23 rakaat, ini sama, Syiah juga.

    Wali sendiri ada sembilan, termasuk yang dianggap sangat lokal kan Sunan Kalijogo dan Syeikh Siti Jenar, apa yang membedakan dengan wali yang lain?
    Sebetulnya sama, hanya cuma pendekatan yang dilakukan oleh Syeikh Siti Jenar dan Sunan Kalijogo adalah pendekatan sufi atau tasawwuf. Mereka lebih fleksibel dalam menghadapi kondisi kultural masyarakat. Masyarakat di pedalaman dan pesisir kan ada perbedaan, disitu. Dan ternyata Syeikh Siti Jenar dan Sunan Kalijogo masih menyisakan tarekat sementara wali yang lain tidak meninggalkan itu, tidak ada bekas jejaknya kecuali makam-makan. Ada tarekat Akmaliyah, Syatariyah, itu salah satu bekas jejaknya Syeikh Siti Jenar dan Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati.

    Kontraversi tentang Syeikh Siti Jenar sendiri bagaimana?
    Ini masalah politis sebetulnya. Jadi ada perbedaan pendapat tentang Syeikh Siti Jenar antara di Jawa dan Cirebon. Di Cirebon, orang memandang Syeikh Siti Jenar lebih obyektif karena ia berasal dari sana, sementara di Jawa tidak. Itulah fenomena antara Islam pedalaman dan Islam pesisir, itu saja.

    Faktor politik apa yang membuat Syeikh Siti Jenar dianggap melenceng dari Islam?
    Dia kan merombak sistem sosial yang ada waktu itu, dia memperkenalkan namanya masyarakat yang berasal dari kata musyarokah, padahal sebelumnya strukturnya kawulo atau budak, dia menyuruh pengikutnya untuk menyebut masyarakat, yang sederajat, punya hak untuk kerjasama, menyebut diri dengan kata-kata ingsun atau aku bukan kulo atau kawulo. Kalau orang Sunda jangan menyebut diri dengan kata-kata abdi,, kalau di Sumatra jangan menyebut diri dengan kata-kata saya atau sahaya, ini artinya juga budak. Kamu orang yang sederajat. Ini yang membuat marah kalangan elit politik di keraton karena yang boleh mengucapkan kata-kata ingsun itu hanya raja. Orang lain tidak boleh, yang disebut panjenengan insung, panjenengan berasal dari kata-kata jumeneng artinya engkau yang punya hak berdiri. Masyarakat tidak punya hak untuk berdiri, menekuk kaki kalau kawulo itu. Nah Syeikh Siti Jenar melawan sistem itu.

    Pada waktu itu penguasa di keraton seperti Demak kan para wali, apa ini tidak berarti ingin mengokohkan sistem yang ada sebelumnya dengan sistem kawulo gusti.?
    Sebetulnya begini, yang berkuasa waktu itu adalah Sultan Trenggono, ia dari segi ibu cucunya Sunan Ampel, berarti Sunan Bonang itu pakdenya, Sunan Drajat yang pakdenya, Sunan Giri itu juga masih saudara, jadi wali songo itu satu keluarga. Jaman Sunan Trenggono, sudut pandangnya sudah lain karena walinya sudah berubah, Sunan Ampel sudah meninggal, Sunan Giri sudah meninggal, Sunan Bonang juga sudah. Ini generasi berikutnya, dari situlah Sunan Trenggono ingin mengokohkan kekuasaannya dan ia merasa terganggu dengan ajaran Syeikh Siti Jenar yang sangat egaliter itu. Dan Syeikh Siti Jenar melihat ajaran nabi itu kan sangat egaliter. Itulah, ia tetap bersikukuh dengan itu. Kerena itu, kadang-kadang aneh juga, Syeikh Siti Jenar sangat mengakomodasi kebudayaan kultural, tetapi disatu sisi tidak juga seluruhnya bener, karena ketika para wali menyebut dirinya sunan, sebuah bahasa lokal yang artinya raja atau guru spiritual, Syeikh Siti Jenar tetap pakai gelar syeikh tidak Sunan Siti Jenar, tetap syeikh.

    Gelar syeikh ini berarti aspek keagamaan?
    Ya keagamaan, guru agama dan syeikh itu kan guru spiritual, disitu. Jadi memang punya otoritas keagamaan?
    Kalau melihat perkembangan Islam sekarang bagaimana dikaitkan dengan penghargaan terhadap budaya lokal. Sekarang kan banyak ajaran-ajaran baru?
    Sebetulnya gini, ada proses perubahan sosial yang tidak terakomodasi oleh mainstream besar tradisional, karena kalau kita lihat munculnya kelompok sempalan baru ini dari mana asalnya? Ya dari mainstream besar ini. Mereka tidak terakomodasi sehingga lari, bukan karena mereka tiba-tiba muncul, ini karena tidak terakomodasi. Satu contoh, dia putranya syuriah NU, tetapi ia aktif di organisasi lain karena merasa "aku ini mahasiswa, sekolah di Amerika, ngaji yo ora iso koyok itu" Lha gimana, ini kan tidak terwadahi di NU. Di NU kan ada tradisi, kalau ada orang pinter yang bisa menjadi ancaman, disingkirkan, he he he… akhirnya muncul kelompok sempalan yang tidak terakomodasi, saya kira itu saja, tetapi kalau bisa mengakomodasi, saya kira orang-orang itu balik lagi.
    Kalau berkaitan dengan kelompok Islam dari Timur Tengah itu bagaimana dan mereka tampaknya ingin menerapkan seperti yang di Arab?
    Biar saja, yang jelas mereka yang mayoritas disini tetap akulturasi budaya. Kita lihat malah sekarang sudah banyak yang melenceng. Agak irasional, ada yang kelompok modern, fundamentalis, ngajarkan yang namanya ru'yah, ini apa, ini kan permainan orang-orang tradisional dulu. Nanti ada jinnya gini-gini, balik lagi akhirnya. Saya pernah mengantarakan mereka ziarah kubur, ya nalurinya balik lagi.
    Artinya Islam Indonesia tak akan bisa seperti di Arab?
    Dha bisa, saya itu pernah bertemu dengan salah seorang TKI dari Jember waktu haji. Ia mengatakan sudah bekerja di Saudi sejak tahun 1973, saya tanya, "Sampean kan berarti sudah punya hak untuk jadi warga negara sini?' dijawabnya "O, dhak pak, saya setiap tahun mesti pulang, saya tidak mau jadi warga negara sini. Orang sini kalau mati kayak binatang, dimasukkan liang kemudian dibuldoser, gak ada itu ditahlili, saya gak mau seperti itu". Nah ini ka nada faktor kultural yang memberati dia. Kenikmatan duniawi yang ia peroleh di sana tidak bisa merubah mainstream dia, ya sudah itu, mau apa lagi!. (mkf)
    sumber: http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,9087-lang,id-c,halaqoh-t,Dakwah+Paling+Sukses+pada+Era+Wali+Songo-.phpx
  • Diam atau berkata baik?

    Hadits Berikut tentang Anjuran untuk berkata Baik atau lebih baik diam serta memuliakan tetangga serta tamu.

    عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
    [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]
    Kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :

    “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)

    dan firman-Nya:
    “Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS. Qaff : 18)

    Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
    “Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.

    Beliau juga bersabda :
    “Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.

    Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

    Sebagian ulama berkata: “Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat Hadits, antara lain adalah Hadits “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Sebagian ulama memaknakan Hadits ini dengan pengertian; “Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”. Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.

    Allah berfirman :
    “Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS.Qaaf : 18)

    Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu ‘Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat pembalasan.

    Kalimat “hendaklah ia memuliakan tetangganya…….., maka hendaklah ia memuliakan tamunya” , menyatakan adanya hak tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan di dalam Al Qur’an keharusan berbuat baik kepada tetangga dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

    “Jibril selalu menasehati diriku tentang urusan tetangga, sampai-sampai aku beranggapan bahwa tetangga itu dapat mewarisi harta tetangganya”.

    Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.

    Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan : “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”. Pengarang juga menyebutkan perkataan dalam menyambut tamu.

    Selanjutnya ia berkata : Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.
    sumber:  http://materidakwah-online.blogspot.com/2013/03/hadits-berkata-baik-atau-diam.html

  • Kenapa harus melakukan observasi?

    Dakwah itu berbagai macam materi, diantarnya fiqih, tauhid, akhlak dan yang lainnya. maka dari itu di lihat terlebih dahulu (melakukan observasi) mana yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat pada saat kita malkukan dakwah.
    misalanya saja, pada saat ini masyarakat kita keyakinan akan imannya goyang. disebabkan banyaknya doktrin-doktrin yang dilakukan oleh kaum orientalis dan semacamnya. maka, kita yang bertugas sebagai pendakwah, atau orang yang dikirim untuk melakukan dakwah haruslah mengisi materi dakwah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dalam hal ini, ialah dakwah yang materinya tentang ketauhidan. begitu juga seterusnya. hal ini juga pernah di tunjukkan oleh para walisongo. hal ini bisa anda buktikan dengan tautan berikut ini.
    Ulasan dakwah walisongo 
    Metode dakwah walisongo
    maka melihat hal ini, observasi sangat-sangat perli dilakukan oleh seorang pendai.
    mengenai contoh-contoh materi dakwah dapat anda klik disini
    sekian untuk postingan kali ini semoga bermanfaat. 
  • asal-usul kenapa mengambil tema ini

     

    rasanya, pada masa sekarang Indonesia dahaga akan suatu pendai atau mubalighin. memang pada kenyataannya mereka sekarang ini telah banyak bermunculan. akan tapi, dalam kenyataannya yang terjadi mereka yang seharusnya menjadi uswatun hasanah, sayangnya beberapa dari mereka gagal. kebanyakan, mereka yang tak mampu memberikan uswatun hasanah ialah mereka yang masih berpegang teguh pada kaidah lama yakni (yang menjadi pegangan golongan ASWAJA)
    المحافظة على القديم الصاليح والجالب على الجديد الا صلاح>> , padahal dalam analisa yang telah saya lakukan kaidah ini kurang efektif dan efesien.  dan menurut saya kaidah,
    المحافظة على القديم الا صلاح والجالب على الجديد الصاليح > > seperti gambar diatas lebih baik dan jau lebih bermanfaat dari pada yang pertama. Namun demikian problem yag terjadi tak hanya berhenti di sana saja, sebagian dari mereka belum mapan dalam beberapa aspek untuk berdakwah. contoh realnya, soal penipuan (sperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu), bagaimana bisa seorang pendai menipu audiensnya, kalau bukan disebabkan oleh kurang mapannya aspek-aspek untuk berdakwah.<dan untuk lebih memahami apa maksud diatas bisa anda baca artikel terkait hal ini. Klik disini) maka dari sinilah, saya akan mencoba memberikan gambaran sederhana, bagaimana solusi yang terbaik untuk para mubaligin atau pendai kita. dan terakhir, akan saya tutup postingan kali ini dengan bacaan sholowat, 
    اللهم صلى على سيدنا محمد , dengan harapan besar, potingan ini lebih bermanfaat bagai agama tercinta kita semua. islam ala ahlussunnah wal jamaah.
    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
  • المحافظة على القديم الا صلاح والجالب على الجديد الصاليح


    Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
            saudaraku yang di rahmati allah. pada postingan kali ini, saya akan memaparkan kenapa kaida ini lebih efeketif dan efesien daripada kebalikannya <المحافظة على القديم الصاليح والجالب على الجديد الا صلاح>. sebenarnya alasannya simpel saja. secara global, hal ini disebabkan karena tuntunan zaman, yang semakin dewasa semakin perlu adanya perubahan. begitu juga kaidah ini. kedua, kalau lebih diperhatikan lebih di analisa kritis, dengan di bumbui oleh historisitas dan juga sisi psikologis awal mula kaidah yang pertama merupakan kaidah orang-orang ASWAJA dan sekaligus merupakan juga ketakutan akan ajaran-ajaran bid'ah yang semakin hari semakin membabi buta. padahal, kalau seandainya saja kita mengamalkan kaidah yang pertama, maka dapat dipastikan agama kita akan menjadi terbelakang.contohnya saja, media elktronik yang sudah ada. bayangkan saja, seandainya jika kita tetap keras kepala untuk menolak atau paling tidak menganggap sepele akan kebiahannya. dengan akal sehat <tanpa dipikir> pun kita banyak ketertinggalan informasi terbaru. saya rasa cukup sekian saja yang saya paparkan. kalau sekiranya salah atau bingung sapat kita jadikan bahan diskusi dengan lewat pesan Fb. atau juga bisa langsung di komen. 
    washollohu ala sayyidina muhammadin wa 'ala alihi washahbihi wassallam

    wassalamu 'alaikum wr.wb
  • Kuncinya, ada empat (mental, kepribadian, metode serta materi)


    بسم الله الرحمن الرحيم 
    Seiring dengan majunya suatu zaman, kita sebagai umat islam harus senantiasa up to date. Baik dalam bidang agama, maupun dalam bidang umum. Hal in dikarenakan untuk tatap menjaga islam agar tidak menjadi agama yanag kolot atau bahkan –naudzubillah- agama yang tertindas oleh zaman. Namun, penyeleksian terhadap suatu ahl yang barus haruslah sesuatu yang baik. Tidak harus yang lebih baik sepert maqola-paribahasa- yang sering kita dengar –المحافظة على القديم الصاليح والجالب على الجديد الا صلاح “meanjaga atas suatu perkara dahulu yang baik. Dan mengambil suatu perkara baru yang lebih baik” -. Akan tetapi ada kalanya lebih baik seperti berikut المحافظة على القديم الا صلاح والجالب على الجديد الصاليح , keblikan dari yang pertama. Pastinya, saya mengutarakan demikian ada sebabnya. Kenapa?, dikarenakan sesuatu hal yang lama, terkadang adakalanya kurang efesien dengan zaman sekarang atau bahkan dengan zaman yang akan dating. Misalnya, masalah dakwah. Kita flashback sejenak. Pada zaman dahulu, seseorang jika ingin berdakwah atau ditugaskan untuk berdakwah mereka harus langsung pergi ke lokasi yang ingin dijadikan tempat dakwah. Dengan demikian, konsekuensi yang diterima ialah waktu dan tenaga kita akan hanya terkuras dalam perjalanan. Sedangakan sesaat kita sudah sampai pada lokasi yang telah kita tentukan, ternyata sudah terjamah dahulu oleh mereka yang terlebih dahulu dating lebih cepat. Mereka yang telah menggunakan fasilitas-fasilitas modern. Bahkan dalam waktu satu detik saja, yang mereka sampaikan –berupa fitnah-fitnah yang bertujuan untuk membenci serta memusuhi islam- sudah berada ditangan. Kawan, taukah siapa mereka itu? Mereka ialah para kaum orientalis dan misionaris, musuh-musuh islam. Lantas, apa ingin agama tercinta kita ini tertinggal dengan cara-cara yang dilakukan oleh mereka? –yakni, dengan fasilitas canggih internet seperti media-media social, bloging, media cetak, atau melalui media televisi-. Maka dari itulah, maqola yang kedua lebih baik.
                    Mengenai, masalah yang saya sebutkan –dakwah didunia nyata-, bukan berarti kita harus benar-benar meninggalkannya. Hal ini, dikarenakan untuk mempermudah dan mempercepat seorang penduduk untuk mendapatkan jawaban mengenai problematika yang diahadipnya. Dan juga, untuk tetap menjaga keutuhan akan ajaran keislaman yang telah kita doktrinkan. Namun demikian, penggabungan anatar keduanya itu lebih efektif, efesien dan lebih maksimal. Tetapi dalam melakukan dakwah, atau mengirim seorang pendai haruslah seseorang yang benar-benar mapan dalam segi mental dan kepribadian adan juga seseorang yang benar-benar mapan dalam segi metode sekaligus beserta materinya. Yang dimana ke empat-empatnya itu kebanyakan tak ada pada seorang pendai. Dimana ke empat ajaran cara berdakawah itu sudah dicontohkan oleh Allah kepada kita, melalui rasulnya. Dengan demikian wajar, jika ada penDai yang bertindak tak logis. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini.  –menipu, menginjak dan yang lainnya-.
                    Mari kita tengok awal mula sejarah nabi kita. Saat pertama kali diberikan wahyu pertama. Yang dibwakan oleh malaikat jibril. Beliau merasa ketakutan dan belum siap untuk menerimanya. Hal ini dikerenakan mental kepribadian nabi belum terbangunkan. –terbukti dengan wahyu yang kedua, dimana beliau berselimut demgam rasa ketakutan- Begitu juga dengan penDai, apabila mentalnya tidak ditempa secara baik dan matang. Hasilnya nihil. Lantas, bagaimana kita menempa mental pendai secara aik dan matang? Dalm wahyu kedua yang diterima oelh rasululoh merupakan jawabannya. Coba kita telisik lebih dalam makna yak tersirat pada wahyu tersebut –surah al-Muddatsir ayat 1-7- beliau (rusululloh) di ingtakn oelh Allah mengenai akan kepribadan yang apik nan elok, didalam ayat tersebut jika saat kita telah menelaah dalam-dalam, kita akan mendapatkan poin-poinnya sebagai berikut:

    Pertama, ayat kesatu sampai dengan ayat kedua (1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan!). dalam ayat tersebut sebenarnya tersimpan mana dan hikmah yang dapat kita ambil. Dimana ayat terseut mengajarkan hikmah kepada kita untuk menjadi pribadi yang semangat. Seorang pribadi yang tak kenal lelah ataupun letih dalm artian ayat tersebut mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang optimis. akan tetapi sifat optimism yang tinggi haruslah disertai dengan tawakkal. Kenapa harus dengan tawakkal? Tentu saja hal ini dikarenan jikalau seseorang yang terlalu optimimis akan berdampak pada kesombongan. Padahal sombong itu berhak disandang oleh Allah SWT. Hal ini senada dengan ayat berikutnya. -3. dan Tuhanmu agungkanlah!-

    Kedua, mulai dari ayat ke empat sampai dengan ayat yang ke 6. (4. dan pakaianmu bersihkanlah,5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.) secara global mana yang dinginkan oleh ayatayat tersebut ialah ikhlas. Ikhlas itu bermacam-macam, bukan hanya ikhlas seperti yang biasa kita lakukan. Dalam ayat tersebut, disebutkan 3 macam keikhlasan;

    Pertama, dan yang paling penting ialah bagaimana kita bias mengikhlaskan pakaian hati kita –yakn nafsu- dari hiasan dunia. Yakni zuhud. Dengan demikian semua tindakan yang dilakukan oleh si pendai bukan bertujuan mencari duni akan tapi semata wayang lillhi ta’ala. –diambil dari ayat ke empat-

     kedua, ayat kelima juga mengjarkan arti keikhlasan yang tak kalah penting. Yakni, berikhlas dalam meniggalkan perbuatan yang keji. Perbuatan yang dapat mendatangkan murka dari allah..

    Ketiga, ikhlas yang diajarkan kepada kita ialah ikhlas untuk menerima apa yang akan kita dapatkan. Baik itu rizeki atau ikhlas akan musibah yang kita terima.

                    Mengenai keikhlasan hal ini juga dicontohkan oleh walisongo. Mereka mensyiarkan islam murni karena hanya mengharap ridhanya Allah. Hal ini dapat kita buktikan sebagai berikut

    1. Dibuku manapun dan sejrawan siapapun tak pernah mencatakan bahwa mereka berdakwah untuk mengais keuntungan duniawi.
    2. Kekalnya –jawa:langgeng- amal perbuatan mereka.walaupun mereka telah wafat akan tetapi amaliyah yang dicontohkannya masih ada hingga kini. Misalnya pertunjukan wayang-wayang –yang didalamnya telah dimasuki unsure islami-. Apa hubungannya dengan ikhlas? Cukup simple saja, kita cermati saja orang-orang serta kejadian-kejadiannya yang berada disekitar kita. Anggap saja orang member, jelaslah berbeda, antara pemberian orang yang ikhlas dan yang tidak. Terbukti pemberian yang ikhlas kita tetap menjaga pemberiannya. Bukankah demikian? Selain itu ada juga maqola seperti demikianدوامالعمل  علامة الاخلاص “tanda-tanda orang itu berbuat ikhlas, itu kekalnya amal yang diperbuat”

    Ketiga kepribadian yang diajarkan Allah kepada nabi Muhammad SAW. Yang harus kita contoh ialah pribadi yang sabar. –lihat ayat yang ketujuh-. Disana kata “sabar”  menggunakan kalimat fiil amar. Yang menunjukkan arti lit tikror –berulan-ulang-. Dengan demikian, pendai juga haruslah menjadi pribadi yang sabar disetiap waktu dan kondisi.

                    Allah tidak hanya membentuk pribadi seorang mubalighin –sinonim pendai- sebatas itu. Setelah surah al-Muddthir ayat ke 1-7 yang membentuk karakter yang demikian tak henti-hentinya pribadi seorang mubalighinnya –yakni rasul- di didik dan terus di didik.yaitu dengan menurunkan ayat-ayat pendidik yang lainnya, diantarnya surah al-Muzammil ayat 1- 5. Dimana secara universalnya, mubalighin haruslah mantap dan mapan dalam segi keimanannya juga. Memang salam ayat tersebut sama sekali tak ada kata “iman” tapi, setelah mentelaah, baru bisa diperoleh ma’nanya. Dan dibalik sholat itulah ma’na kontekstual yang dapat terima. Taukah anda apa itu? Itu adalah  Iman. yang merupakan hasil sari pati sholat. Memangnya seberapa perlukah seorang mubalghin menjadi pribadi yang beriaman? Sangat perlu, karena seorang yang mempunyai iman yang mapan dia akan senantiasa amar ma’ruf nahi munkar. Dan dalam bertindak pun dia aka selalu berhati-hati, apakah ini melanggar syariat atau tidak? Hal ini juga disebabkan dia merupaan seorang teladan. Dimana seorang teladan itu menjadi contoh dan penutan masyarakat. Bagaimana mungkin masyaraktnya baik, sedangkan yang dijadikan contoh saja tidak baik. Pribadi yang mapan imannya pentingkan?

                     Kemudian, dalam surah asy-Syu’arah ayat 214-216 (214. dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, 215. dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. 216. jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan) keseluruhan ayat-ayat tersebut mengjarkan kepribadian seperti berikut;

    Ayat 214: mengajarkan kepada mubalighin menjadi pribadi yang tak tergesa-gesa dalam bertindak dan berkata. Dan juga tida menjadi seorang yang belbihan –jawa: muluk-muluk-

    Ayat 215: walaupun kita nantinya mejadi seseorang mubalighin. Bukan berarti kita dapat bertindak sesuka hati. Malahan kita harus menjadi seorang yang rendah hati dan menghormati –andap asor:jawa-

    Ayat 216: ayat ini sebenarnya mengjarkan kepada kita untuk menjadi pribadi pemaaf. Walaupun secara tekstualnya tidak ada. Namun dapat kita ambil dari intisari yang dimaksudkan ayat tersebut.

                    Sungguh kejadian-kejadian tak terduga yang timbul dari seorang mubalighin –sperti yang terjadi pada tahun-tahun ini. Yaitu contoh-contoh yang telah saya singgung di awal- itu disebabkan karena kurangnya memantpakan pribadinya. Maka dengan demikian, sepatutnya mereka tak hanya sekedar pandai dalam hal menyampaian materi saja. Tetapi harus adanya keseimbangan antara ke empat komponen tersebut –mental, pribadi, metode dan materi-. Dengan maksud, mubalghin bukan hanya merupakan seorang yang beri-IQ, tapi juga ber-EQ.

                    Kita jangan lupa dengan wahyu pertama yang juga dapat kita ambil hikmahnya. Untuk dijadikan suatu pertimbangan untuk berdakwah. Yakni membaca. Dalam membaca macamnya ada 2 –yang ada kaitannya dengan berdakwah-:

    Pertama, membaca lingkungan –sosiolog serta geolognya- tujuan utamanya ialah untuk mengetahui bagaimna kondisi lapangan yang akan dijadikan berdai. Apakah cocok dengan metari yang akan dibawakannya? Dengan demikian, kita akan tahu bagaimana cara metode yang kita samapaikan kepada masayaratakat tersebut. Tidak hanya terpaku pada pada lingkungan saja, tetapi faktor psikolog masyarakat juga mampu mempengaruhi meode dakwah yang digunakan. Dan ini juga yang menjadi macam kedua pada surah tersebut. Membca lingkungan dan psikolog, keduanya ini harus dikombinasikan. Sehingga materi yang akan kta sampaikan kepada masyatakat yang berada ditempat dapat dicerna dan diterima. Ini disebabkan karena cara dan isi yang disampaikan memang dibutuhkan dan menarik serta tak bertentangan dengan mereka.

                    Sedangkan, cara berdakwa sendiri, sebenarnya Allah juga telah mengajarakannya kepada mubaliigh. Surah an-Nahl ayat 125 -serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.- merupakan ajaran tersebut. Yang dimaksudkan ialah berupa materi yang harus dibwakan ialah berupa hikmah yang mempunyai pengertian secara umum yang berarti  perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Sedngkan secara intens, hikmah disni ialah bagaimana caranya kita menyampaikan materi tersebut dengan tutur kata yang lembut, lugas, sopan serta beradab. Selain dari pada itu, ayat tersebut mengandung ajaran yang lainnya. Yakni, mengjarkan kepada mubalighin tentang menyikapi segala tindakan yang dilakukan masyarakat kepadanya dengan hati yang jernih dan kepala yang dingin. Seperti: saat kita disakiti, sepatutunya tak langsung membalasnya. Melainkan sebaliknya. Menyikapinya dengan kepala dingin. Menanyakan terlebih dahulu kepada mereka  apa yang membuatnya menolak kedatangan kita. Setelahnya kita carikan solusinya. Sehingga orang-orang yang menghalang-halangi sekaligus yang membenci hatinya akan luluh akan ajaran islam dan dapat diterimanya. Insya allah.

                    Sedangkan materi, tergantung pada hasil observasi pada kondisi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Contohnya sudah banyak, kita lihat saja sejarah walisongo. Bagaimana mereka menyebarkan islam dengan cara-cara yang unik dan kreatif. Ada ang menggunakan gamelan (bonang), kalimosodo, yang digunakan sebagai pengganti tiket menonton pertunjukkan wayang. Sehingga dengan cara-cara yang demikian, dapat menarik simpatisan orang-orang non islam ataupun oranng  islam sendiri.

                     Keseluruhan artikel yang saya tulis ini secara ringkas dapat diringkas sebagai gambar berikut:


  • Copyright © 2014 - Resodakwah - All Right Reserved

    Resolusi Dakwah Powered by Blogger - redesigned by Masy Mas